
Episode 2 – Suara Kecil di Kelas
Seminggu setelah lomba pidato, Zidan mulai mencoba hal sederhana yang ia tulis di bukunya: berani bicara di depan kelas.
Hari itu, Bu Rini mengajar pelajaran Akidah Akhlak. Di akhir pelajaran, beliau berkata,
“Siapa yang mau berbagi pendapat tentang pentingnya kejujuran dalam kehidupan sehari-hari?”
Kelas mendadak hening. Beberapa teman menunduk, sebagian berpura-pura menulis.
Zidan menatap buku catatannya. Di halaman itu tertulis:
Target hari ini: bicara satu kali di depan kelas, apapun hasilnya.
Jantungnya berdebar. Tangannya dingin. Tapi ia mengangkat tangan pelan.
“Saya, Bu…” suaranya nyaris tak terdengar.
Seluruh kelas menoleh. Ada yang terkejut, karena Zidan biasanya pendiam.
Bu Rini tersenyum. “Silakan, Zidan.”
Zidan menelan ludah, lalu mulai berbicara.
“Menurut saya, kejujuran itu penting… karena kalau kita berbohong sekali, nanti susah dipercaya lagi. Saya… saya pernah bohong soal tugas, dan akhirnya malah malu sendiri.”
Kelas terdiam sejenak, lalu beberapa teman mengangguk.
Fahri, sahabatnya, mengacungkan jempol kecil dari bangkunya.
Bu Rini menatapnya dengan bangga.
“Terima kasih, Zidan. Itu contoh yang jujur dan berani. Tidak semua orang bisa mengakui kesalahannya seperti itu.”
Setelah pelajaran selesai, beberapa teman mendekati Zidan.
“Bagus banget, Dan. Ternyata kamu berani juga ya sekarang,” kata Laila.
Zidan tertawa kecil. “Masih deg-degan sih. Tapi lumayanlah, satu langkah kecil sudah lewat.”
Malamnya, ia menulis lagi di bukunya:
Hari ini aku bicara di depan kelas. Rasanya menegangkan, tapi juga menyenangkan. Mungkin aku tidak buruk seperti yang kupikir dulu.
Ia menutup buku itu sambil tersenyum.
Langkah kecilnya mulai terasa nyata — suaranya yang dulu kecil, kini mulai terdengar.
Nilai Pengembangan Diri (Episode 2):
- Melatih keberanian untuk mencoba hal baru, meski takut.
- Menyadari bahwa setiap kemajuan kecil patut dihargai.
- Kejujuran dan refleksi diri sebagai bentuk pertumbuhan pribadi.
