
Episode 3 – Mimpi Baru di Panggung Ekstrakurikuler
Sudah dua minggu Zidan berlatih berbicara di kelas. Perlahan, rasa takutnya mulai berkurang. Ia masih gugup, tapi kini ada rasa senang setiap kali berani mencoba.
Suatu hari, Bu Rini mengumumkan di mading madrasah:
“Ekstrakurikuler baru dibuka: Klub Teater Islami. Pendaftaran dibuka sampai Jumat.”
Fahri langsung menepuk bahu Zidan.
“Dan, kamu harus ikut! Ini kesempatan buat kamu latihan bicara di depan orang banyak.”
Zidan tertawa gugup. “Teater? Aku nggak bisa akting.”
“Tapi kamu bisa belajar. Ingat kata Bu Rini: langkah kecil.”
Akhirnya, Zidan mencoba mendaftar. Hari pertama latihan, ia berdiri bersama beberapa teman di aula madrasah.
Pembina klub, Kak Nabila, memberi instruksi, “Sekarang, kita latihan ekspresi. Bayangkan kalian sedang kehilangan sesuatu yang penting.”
Zidan menatap lantai, berusaha membayangkan. Tapi wajahnya kaku.
Kak Nabila tersenyum lembut. “Zidan, coba bayangkan perasaanmu waktu gagal di lomba dulu. Gunakan perasaan itu.”
Zidan menarik napas panjang. Perlahan ia mulai berbicara, kali ini dengan nada yang lebih dalam.
“Saya… saya sudah berusaha… tapi kenapa gagal lagi?”
Ruangan menjadi hening. Teman-temannya terpaku. Kak Nabila bertepuk tangan kecil.
“Itu dia! Kamu punya emosi yang kuat. Jangan takut tunjukkan itu.”
Sejak hari itu, Zidan rajin datang ke latihan. Ia mulai menemukan kesenangan baru: mengekspresikan diri lewat peran.
Malamnya ia menulis di buku catatannya:
Hari ini aku tampil di depan teman-teman klub. Aku merasa bebas. Mungkin, di sinilah tempatku tumbuh.
Langkah kecil Zidan kini berubah menjadi mimpi — mimpi untuk berdiri di panggung, bukan lagi sebagai anak pemalu, tapi sebagai seseorang yang berani menginspirasi.
Nilai Pengembangan Diri (Episode 3):
- Berani mencoba hal baru di luar zona nyaman.
- Menemukan potensi diri lewat pengalaman.
- Mengubah kegagalan menjadi bahan pembelajaran dan ekspresi
