
Episode 5 – Menjadi Cahaya bagi Orang Lain (Ending)
Beberapa bulan telah berlalu sejak penampilan teater itu.
Nama Zidan kini dikenal banyak siswa di madrasah — bukan karena ia paling pintar, tapi karena ia selalu bersemangat membantu teman-temannya berkembang.
Ia membantu teman yang kesulitan berbicara di depan kelas, membentuk kelompok kecil “Teman Bicara” setiap sore di perpustakaan.
Di sana, mereka berlatih menyampaikan pendapat, membaca puisi, bahkan berbagi cerita tentang mimpi.
Suatu hari, Bu Rini memanggilnya setelah upacara.
“Zidan, kamu tahu tidak? Banyak siswa jadi lebih berani karena ikut kegiatanmu. Kamu sudah menyalakan lilin kecil di hati mereka.”
Zidan tersenyum malu. “Saya cuma ingin teman-teman merasakan apa yang dulu saya rasakan, Bu… waktu pertama kali berani melangkah.”
Saat senja tiba, Zidan duduk di taman madrasah, menatap langit yang mulai jingga.
Ia teringat perjalanan dirinya — dari anak yang takut bicara, menjadi siswa yang berani berdiri dan menginspirasi.
“Ternyata langkah kecil bisa jadi cahaya untuk orang lain,” gumamnya pelan.
“Asal kita mau mulai.”
Dari kejauhan, terdengar tawa teman-temannya yang memanggil. Zidan berdiri, menenteng buku catatan yang dulu ia tulisi kalimat penuh keraguan — kini penuh dengan kata “percaya.”
Ia berjalan menghampiri mereka, dengan hati yang mantap.
Langkah kecilnya telah berubah menjadi perjalanan panjang menuju kedewasaan.
🕊️ Pesan Akhir Cerita:
- Keberanian bukan berarti tanpa rasa takut — tapi memilih tetap melangkah meski takut.
- Pengembangan diri sejati terjadi saat kita tak hanya tumbuh untuk diri sendiri, tapi juga membantu orang lain bertumbuh.
- Setiap langkah kecil berarti, jika dilakukan dengan niat baik dan ketulusan hati.
