
Pagi itu, sinar matahari menembus celah jendela madrasah. Di halaman, terdengar suara siswa-siswi yang bercanda sambil menunggu bel masuk.
Di antara keramaian itu, seorang siswi berjalan perlahan — langkahnya kecil, matanya menunduk ke bawah. Ia adalah Laila, siswi kelas 8 yang dikenal pendiam tapi rajin.
Sepatunya sudah usang. Warnanya tak lagi hitam, tali sepatunya robek di ujung, dan bagian depannya sedikit terbuka. Meski begitu, Laila tetap memakainya setiap hari.
“Yang penting masih bisa jalan,” gumamnya pelan sambil tersenyum.
“Laila, kamu nggak ganti sepatu?” tanya Siti, sahabatnya, ketika mereka duduk di kelas.
“Nanti aja, kalau sudah punya uang,” jawab Laila ringan.
Siti terdiam. Ia tahu, keluarga Laila hidup sederhana. Ayahnya sakit dan tak bisa bekerja, sedangkan ibunya berjualan gorengan di depan rumah.
Namun di balik kesederhanaannya, Laila selalu punya semangat besar.
Ia rajin membantu guru piket, ikut membersihkan mushala, dan tak pernah absen dari salat dhuha di madrasah.
Teman-temannya sering heran bagaimana ia bisa tetap ceria meski keadaannya sulit.
Suatu hari, saat jam istirahat, Ustadzah Rahma melihat Laila duduk di taman sekolah. Di pangkuannya, ada sepatu yang sedang ia rekatkan dengan lem bening.
“Laila, kenapa tidak bilang kalau sepatumu rusak?” tanya Ustadzah lembut.
Laila tersenyum kecil. “Saya takut merepotkan, Ustadzah. Sepatu ini masih bisa dipakai kalau dilem.”
Ustadzah Rahma hanya mengangguk, namun matanya berkaca-kaca.
Malam harinya, di grup kelas, Siti menulis pesan:
“Teman-teman, gimana kalau kita patungan sedikit untuk belikan sepatu baru buat Laila?”
Tanpa disangka, semua setuju.
“Boleh banget!”
“Laila itu orang baik, pantas dibantu.”
“Kalau bisa, kita kasih kejutan ya!”
Beberapa hari kemudian, saat upacara pagi, Ustadzah Rahma memanggil nama Laila.
“Laila, kemari sebentar.”
Seluruh siswa menatap penasaran. Laila berjalan ke depan dengan langkah pelan.
Ustadzah menyerahkan sebuah kotak berwarna biru muda, dihias pita putih.
“Ini ada hadiah dari teman-temanmu,” kata beliau sambil tersenyum.
Dengan tangan gemetar, Laila membuka kotaknya. Di dalamnya tergeletak sepasang sepatu putih baru — bersih, wangi, dan pas ukurannya.
Ada secarik kertas kecil bertuliskan:
“Untuk Laila yang rajin, baik hati, dan selalu menginspirasi. Dari teman-temanmu yang menyayangimu.”
Laila menatap mereka semua, matanya berair. “Terima kasih… aku nggak tahu harus bilang apa,” katanya dengan suara bergetar.
Seluruh teman sekelasnya tersenyum. Beberapa bertepuk tangan, beberapa ikut menitikkan air mata.
Sejak hari itu, Laila berjalan dengan langkah lebih ringan.
Bukan karena sepatu barunya — tapi karena hatinya yang penuh syukur dan persahabatan yang tulus.
Pesan Moral:
“Kebaikan kecil yang dilakukan dengan hati besar akan tumbuh menjadi kebahagiaan yang tak terduga.”
Jangan pernah malu dengan keterbatasan, karena nilai seseorang bukan di apa yang ia punya, tapi di ketulusan yang ia beri
