Episode 4 – Panggung Pertama, Degup Pertama

Hari itu adalah hari penampilan pertama Klub Teater Islami di madrasah. Aula dipenuhi siswa dan guru. Di belakang panggung, Zidan memandangi tirai merah yang sebentar lagi akan terbuka.
Tangannya dingin. Jantungnya berdegup cepat.

“Tenang, Dan,” bisik Fahri yang juga ikut tampil. “Kamu sudah latihan keras. Nikmati saja.”

Zidan mengangguk pelan. Ia mengingat pesan Kak Nabila saat latihan terakhir,

“Di atas panggung, kamu bukan lagi Zidan yang pemalu. Kamu adalah tokoh yang membawa pesan kebaikan.”

Tirai perlahan terbuka. Lampu sorot menyorot wajahnya.
Ia memulai dialog dengan suara bergetar, tapi semakin lama, kata-katanya mengalir dengan percaya diri.
Penonton hening — lalu tepuk tangan bergema setelah adegan berakhir.

Bu Rini menatap dari barisan depan dengan mata berkaca-kaca.
Fahri menepuk bahunya ketika mereka turun dari panggung.
“Kamu keren, Dan. Lihat? Langkah kecilmu sudah sampai ke panggung besar.”

Zidan tersenyum lega. Ia memandang ke arah penonton, lalu berbisik pada dirinya sendiri,

Dulu aku takut bicara. Sekarang aku bisa membuat orang mendengarkan.

Malamnya, di buku catatannya ia menulis:

Hari ini aku tampil di panggung. Aku bukan lagi Zidan yang takut gagal. Aku Zidan yang terus tumbuh.

Langkah kecil itu kini menjadi keyakinan besar — bahwa keberanian tidak muncul karena tidak takut, tapi karena tetap melangkah meski takut.


Nilai Pengembangan Diri (Episode 4):

  • Menaklukkan rasa takut melalui pengalaman nyata.
  • Mengubah kecemasan menjadi semangat positif.
  • Menyadari pentingnya proses panjang dalam mencapai kepercayaan diri.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments

Buku Tamu

Bagikan kesan dan pesan Anda di perpustakaan digital kami

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x